Belanda adalah salah satu negara dengan harga BBM paling tinggi di Eropa barat. Tahun lalu bensin Euro RON 95 (yang adalah varian paling basic) dijual di kisaran 1,8 sampai 1,95 euro per liter. Harga ini berterima di masyarakat karena relatif stabil sepanjang tahun dan diimbangi infrastruktur jalan yang baik. Sekitar pergantian tahun ke 2026 harga mulai naik menyentuh 2 euro.
Tidak lama berselang US dan Israel bikin gaduh dan tiba-tiba harganya melonjak jadi 2,25-2,4 euro per liter. Kalau belinya di rest area tol bisa lebih dari 2,5 malah. Jadi harga bensin sekarang sekitar 20-25% lebih mahal dari 6 bulan yang lalu. Dampak lebih besar dirasakan pengguna diesel. Harga solar naiknya sampai 50% dari kisaran 1,6 ke 2,4-2,5. Solar yang tadinya lebih murah dari bensin kini berbalik jadi lebih mahal. Masyarakat umum juga merasakan harga-harga kebutuhan terkerek karena biaya distribusi dan logistik yang naik.
Kondisi ini bisa jadi belum yang puncak parahnya. Menurut JP Morgan, minyak yang sekarang kita pakai adalah kiriman dari sebelum eskalasi. Untuk diketahui bahwa kapal tanker yang berat itu hanya bisa jalan 10-15 knots alias sekitar 20 kilometer per jam, mirip-mirip dengan orang naik sepeda. Jadi stok sekarang adalah barang lama yang sudah lewat sebelum selat hormuz ditutup dan oil transport tercekik.
Masih menurut JP Morgan, eventually kiriman lama ini akan habis juga gelombangnya. Di US diperkirakan kiriman terakhir akan datang sekitar 15 April, Eropa 10 April, Australia 20 April, sementara Asia dan Afrika sudah lewat yaitu 1 April kemarin. Mungkin saja negara-negara punya channel lain atau cadangan minyak yang bisa dipakai, tapi hambatan distribusi ini pasti memunculkan shock wave.
Menakjubkan kalau Indonesia benar-benar tidak menaikkan harga sampai krisis ini berakhir. Entah bagian mana lagi yang akan dipotong untuk nambal demi tidak melakukan kebijakan non-populis menaikkan harga pertalite. Statement yang sudah keluar adalah Pertamina yang akan membayar selisihnya. Tapi seberapa kuat BUMN menopang ini mengingat belum jelas kapan kondisi akan normal lagi.
Penyebab utama semua ini tentu Trump dan Netanyahu. Andaikata mereka diam-diam saja krisis ini tidak akan terjadi. Tapi nafsu Israel menjadi supernation dan mengungguli semua negara di Asia Barat memang biadab plus merugikan banyak pihak. The most hated country in the world and that's not even close.
Perang Amerika dan Iran ini asimetris, kalau gede-gedean badan jelas US menang, tapi Iran punya keuntungan strategis yaitu menguasai Selat Hormuz yang jadi jalur distribusi penting dunia. Ini ibaratnya David vs Goliath. America is a bully yang sekarang kelihatan mulai keringetan karena perang yang tadinya ditargetkan straight forward ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Popularitas Trump juga terus turun karena harga-harga naik, instabilitas, dan ketundukannya pada Israel. Bukan hal menguntungkan bagi dia dan partainya mengingat tahun ini akan ada pemilu sela.
Panjang kalau membicarakan politik perang ini, termasuk keikutsertaan Indonesia dalam BOP, piala dunia, dan lain sebagainya. Saya bukan ahli hubungan internasional jadi akan kembali ke harga bensin.
Di Belanda sendiri belum ada kebijakan khusus terkait energi misalnya peraturan WFA atau pemadaman bergilir. Kenaikan harga bensin dan bahan kebutuhan masih ditelan sebagai pengeluaran tambahan household. Pemerintah dan industri ada action sih in the background pasti, tapi di masyarakat masih terasa normal.
Prevalensi penggunaan energi terbarukan dan kendaraan listrik (termasuk angkutan barang dan orang) mungkin menjadi bantal yang melindungi dari krisis ini. Apalagi bulan-bulan ini ngunduri summer yang artinya hari sudah hangat jadi tidak perlu membakar energi untuk pemanas dan siang harinya makin panjang sehingga solar panel makin efektif.
Saya bersepeda sore ini memotret beberapa pom bensin yang saya lewati. Semuanya menunjukkan harga Euro 95 di kisaran 2,3 euro-an.
Chandra