Rasulullah ï·º bersabda: “Jika seorang Muslim bergaul (dalam masyarakat) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang Muslim yang tidak bergaul (dalam masyarakat) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” [HR: At-Tirmidzi 2507. Dinilai Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih At-Tirmidzi]
Seumur hidup saya belum pernah mendengar hadist ini padahal menurut saya ini sangat kontekstual. Adanya internet dan perangkat digital, while bisa mendekatkan yang jauh, tapi juga terbukti bisa menjauhkan yang dekat. Ini diperparah dengan gejala sosial yang saya lihat terutama di kalangan orang-orang muda di mana ada kecenderungan they don't want to bother each other karena takut salah satu menyakiti yang lain. Kecuali memang sudah sangat dekat dan tahu satu sama lain.
Kesadaran orang soal personal space dan barrier kini semakin tinggi. Saya yang mengidentifikasi diri sebagai peralihan antara gen milenial dan gen Z saja merasakan ini, asumsi saya gen Z murni dan yang lebih muda mengalami gejala ini secara lebih kentara (maafkan kalau asumsi saya salah). Saya mikir beberapa kali sebelum mengontak orang yang tidak terlalu dekat karena ada pertanyaan: berkenan nggak ya? masih nyambung nggak ya? lebih gede urgensinya atau resikonya ya?
Saya berpikir salah satu masalahnya adalah anak muda sekarang terbiasa mengonsumsi hal yang 'perfectly baked'. Jadi ketika dalam interaksi dengan orang ada hal yang awkward, boring, atau missing langsung berasa sebagai sebuah kesalahan. Padahal andaikata interaksi tidak berlangsung atau berakhir 100% mulus pun tidak perlu dijadikan sesuatu yang mengganjal. Generasi baby boomers enteng saja bertamu atau menerima tamu tanpa berkabar, sementara anak muda ingin tampil sempurna di depan counterparts-nya sehingga kalau mau ketemu harus atas kesepakatan bersama.
Maka orang prefer untuk connect dengan orang yang dia yakin sefrekuensi saja. Grup-grup pertemanan jadi lebih kecil tapi lebih erat. Sebenarnya ini tidak buruk-buruk amat, quality over quantity, bisa jadi model yang sekarang sudah memberikan supporting system yang cukup. Hanya saja ini jadi kurang oke kalau sampai mengebiri kemampuan untuk berkomunikasi dan connect dengan orang baru karena dalam banyak hal masih diperlukan. Lalu people blame this on 'introvert'.
Tentu ada faktor luar juga seperti safety. Dulu saat telepon masih mahal dan bersih orang biasanya punya alasan valid untuk menelepon. Sekarang scam di mana-mana jadi ketika ada dering telepon masuk tanpa tahu konteksnya survival mode kicks in. Orang tua saya dan segenerasinya mudah saja menelepon atau mengangkat telepon rumah tanpa tahu siapa di ujung yang lain. Sementara generasi kita punya anxiety dengan nada dering.
Kembali ke hadist di atas. Hadist itu terasa menohok karena selain mengalami konteksnya langsung, kita jadi tahu bahwa bahkan dari dulu ternyata Rasulullah sudah mengetahui ini. Beliau sudah tahu bahwa berinteraksi dengan orang membawa konsekuensi potensi tersakiti, tapi jika kita bersabar itu lebih baik daripada yang tidak pernah bergaul karena tidak mau diganggu atau khawatir mengganggu orang lain.
Mengetahui ini terasa answering karena ternyata sudah dari dulu pergaulan punya resiko. Tapi olahraga juga ada resiko kesleo tapi melakukannya tetap lebih baik daripada tidak pernah olahraga. Makan juga punya resiko tersedak tapi tentu lebih baik daripada terus tidak makan. Karena kalau dipikir-pikir olahraga memang ngos-ngosan tapi kesudahannya badan nyaman. Makan kadang kepedesan tapi hasilnya perut kenyang. Bergaul pun lebih banyak yang menyenangkan, bahkan bisa menjadi jalan masuknya solusi dan rejeki.
Chandra
*Peace, Love, and Gaul adalah tagline terkenal acara Planet Remaja yang mengudara di TV di tahun 2000an
**Gambar hanya pemanis, ketika punya keyword 'gaul' entah kenapa bayangan yang muncul di kepala saya adalah Blok M, foto diambil tahun 2023