Peace, Love, and Gaul

March 29, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Salah satu 'buah' yang saya dapat dari Ramadhan kemarin adalah sebuah hadist yang disampakan Ustadz Deden di acara buka bersama Kajian Muslim Ede. Waktu itu beliau menjelaskan tentang pentingnya muamalah, hubungan baik antar sesama manusia. Salah satu yang disampaikan adalah beliau mengutip sebuah hadist yang buat saya hit close to home.

Rasulullah ï·º bersabda: “Jika seorang Muslim bergaul (dalam masyarakat) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang Muslim yang tidak bergaul (dalam masyarakat) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” [HR: At-Tirmidzi 2507. Dinilai Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih At-Tirmidzi]

Seumur hidup saya belum pernah mendengar hadist ini padahal menurut saya ini sangat kontekstual. Adanya internet dan perangkat digital, while bisa mendekatkan yang jauh, tapi juga terbukti bisa menjauhkan yang dekat. Ini diperparah dengan gejala sosial yang saya lihat terutama di kalangan orang-orang muda di mana ada kecenderungan they don't want to bother each other karena takut salah satu menyakiti yang lain. Kecuali memang sudah sangat dekat dan tahu satu sama lain.

Kesadaran orang soal personal space dan barrier kini semakin tinggi. Saya yang mengidentifikasi diri sebagai peralihan antara gen milenial dan gen Z saja merasakan ini, asumsi saya gen Z murni dan yang lebih muda mengalami gejala ini secara lebih kentara (maafkan kalau asumsi saya salah). Saya mikir beberapa kali sebelum mengontak orang yang tidak terlalu dekat karena ada pertanyaan: berkenan nggak ya? masih nyambung nggak ya? lebih gede urgensinya atau resikonya ya?

Saya berpikir salah satu masalahnya adalah anak muda sekarang terbiasa mengonsumsi hal yang 'perfectly baked'. Jadi ketika dalam interaksi dengan orang ada hal yang awkward, boring, atau missing langsung berasa sebagai sebuah kesalahan. Padahal andaikata interaksi tidak berlangsung atau berakhir 100% mulus pun tidak perlu dijadikan sesuatu yang mengganjal. Generasi baby boomers enteng saja bertamu atau menerima tamu tanpa berkabar, sementara anak muda ingin tampil sempurna di depan counterparts-nya sehingga kalau mau ketemu harus atas kesepakatan bersama.

Maka orang prefer untuk connect dengan orang yang dia yakin sefrekuensi saja. Grup-grup pertemanan jadi lebih kecil tapi lebih erat. Sebenarnya ini tidak buruk-buruk amat, quality over quantity, bisa jadi model yang sekarang sudah memberikan supporting system yang cukup. Hanya saja ini jadi kurang oke kalau sampai mengebiri kemampuan untuk berkomunikasi dan connect dengan orang baru karena dalam banyak hal masih diperlukan. Lalu people blame this on 'introvert'.

Tentu ada faktor luar juga seperti safety. Dulu saat telepon masih mahal dan bersih orang biasanya punya alasan valid untuk menelepon. Sekarang scam di mana-mana jadi ketika ada dering telepon masuk tanpa tahu konteksnya survival mode kicks in. Orang tua saya dan segenerasinya mudah saja menelepon atau mengangkat telepon rumah tanpa tahu siapa di ujung yang lain. Sementara generasi kita punya anxiety dengan nada dering.

Kembali ke hadist di atas. Hadist itu terasa menohok karena selain mengalami konteksnya langsung, kita jadi tahu bahwa bahkan dari dulu ternyata Rasulullah sudah mengetahui ini. Beliau sudah tahu bahwa berinteraksi dengan orang membawa konsekuensi potensi tersakiti, tapi jika kita bersabar itu lebih baik daripada yang tidak pernah bergaul karena tidak mau diganggu atau khawatir mengganggu orang lain.

Mengetahui ini terasa answering karena ternyata sudah dari dulu pergaulan punya resiko. Tapi olahraga juga ada resiko kesleo tapi melakukannya tetap lebih baik daripada tidak pernah olahraga. Makan juga punya resiko tersedak tapi tentu lebih baik daripada terus tidak makan. Karena kalau dipikir-pikir olahraga memang ngos-ngosan tapi kesudahannya badan nyaman. Makan kadang kepedesan tapi hasilnya perut kenyang. Bergaul pun lebih banyak yang menyenangkan, bahkan bisa menjadi jalan masuknya solusi dan rejeki.

Chandra


*Peace, Love, and Gaul adalah tagline terkenal acara Planet Remaja yang mengudara di TV di tahun 2000an
**Gambar hanya pemanis, ketika punya keyword 'gaul' entah kenapa bayangan yang muncul di kepala saya adalah Blok M, foto diambil tahun 2023






Eid Mubarak

March 22, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Apakah ada perayaan Idul Fitri di Belanda?
Ya, umat muslim tentu merayakannya setelah satu bulan berpuasa. Tapi secara negara idul fitri atau di sini disebut suikerfeest (kalau ditranslasi jadi 'festival gula') bukan hari libur nasional. Orang yang ingin merayakannya bisa menggunakan hak cuti masing-masing. Rata-rata orang Belanda tahu soal ramadhan dan suikerfeest karena diajarkan di sekolah-sekolah jadi mereka mengucapkan selamat, tapi perayaan ini tidak diformalkan secara aturan.

Idul Fitri kapan?
Di sini sepertinya semua komunitas muslim besar merayakan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Indonesia salah satunya, termasuk di dalamnya PCI NU Belanda yang sudah merilis sejak sebelum ramadhan bahwa 1 syawal jatuh pada 20 Maret. Meski begitu setahu saya ada sebagian kecil muslim di Eropa yang berlebaran pada hari Sabtu-nya.

Apakah ada takbir keliling?
Takbiran dilakukan di dalam masjid masing-masing dan tidak ada takbir keliling di jalan-jalan. Tapi masjid di sini biasanya bukan hanya ruangan area salat saja tapi sebuah cultural centrum yang di dalamnya ada ruang kelas, kantin, sampai aula yang bisa dipakai untuk ramai-ramai merayakan takbiran. 

Salat Ied di mana?
Kami alhamdulillah salat di Masjid Indonesia Al-Hikmah di Den Haag. Salat ied di sana dimulai agak siang jam 09:00 jadi lumayan ada waktu untuk menuju ke sana walaupun untuk kami perjalanannya lebih dari 1 jam. Selain untuk merasakan suasana lebaran bersama banyak masyarakat dari Indonesia, kami juga ada rencana untuk datang ke open house KBRI dan sowan ke beberapa sesepuh.


Seperti apa salat Ied di Al-Hikmah?
Ramai sekali oleh orang-orang datang dari berbagai penjuru negeri. Walaupun di setiap kota ada masjid dan hampir di semua kota besar ada salat ied komunitas Indonesia tapi masjid Al-Hikmah tetap jadi epicentrum muslim Indonesia di Belanda. Kami sampai di masjid jam 8:10an dan sudah tidak dapat tempat di dalam. Bagusnya masjid dapat ijin untuk menggelar salat sampai ke halaman bahkan jalan, sebuah pemandangan yang menarik sekaligus asing di sini. Salat di halaman justru menyenangkan karena rasanya seperti salat di lapangan, kabar baiknya cuaca sedang cerah dan suhunya bersahabat.

Salatnya tentu sama, 2 rakaat dengan rakaat pertama 7x takbir dan rakaat kedua 5x takbir. Khotbah-nya dalam 2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Belanda. Selesai salat masjid membagikan bakso gratis yang antriannya sampai panjang sekali. Beberapa jamaah juga membawa dan membagikan kue dan makanan kecil pada siapapun yang mau. Sampai menjelang siang orang masih salam-salaman, ngobrol, makan, dan foto-foto. Hangat sekali.



Apakah ada budaya saling mengunjungi saat lebaran?
Walaupun tidak semasif di Indonesia tapi budaya ujung tetap ada. Biasanya keluarga-keluarga yang open house akan mengabarkan untuk datang. Agendanya standar: salam-salaman, ngobrol, makan, dan foto. Yang menarik karena kadang tamunya berbarengan dari sirkel yang berbeda, di satu ruang tamu bisa ada 3 bahasa sekaligus Indonesia, Belanda, dan Inggris. Kami sebagai new kids on the block alias termasuk generasi mukimin muda jadi yang keliling sowan dari satu rumah ke rumah lain seperti di Indonesia.


Suguhannya apa?
Somehow kue-kue lebaran seperti nastar, putri salju, lidah kucing, kastengel dan lain sebagainya sampai juga di meja-meja rumah Belanda. Ada yang bikin sendiri, ada yang memang jualan, dan ada yang bawa dari Indonesia. Selain itu ada coklat-coklatan yang memang mudah di dapat di sini. Favorit saya Ferrero Rocher alias Roka dalam kemasan premium..

Untuk sajian makannya, wah masyaAllah sekali. Rata-rata yang open house adalah keluarga yang sudah benar-benar mukim dan settle di sini jadi masak-masak besar bukan lagi hal yang rumit, termasuk sourcing bahan baku halal dan bumbu-bumbu spesifik untuk masak masakan nusantara. Jadi opor ada, rendang ada, bakso tetelan ada, gule tunjang ada, sampai seblak pun ada. Alhamdulillah wa syukurillah.




Rasa lebaran tahun ini?
Tentu lebaran tidak sama ketika berjauhan ribuan kilometer dari keluarga inti. Tapi kami berusaha the best we can do untuk tetap merayakan 'bersama' walaupun hanya via layar handphone. Sisanya kami mensyukuri apa yang ada di sini, termasuk teman-teman dan saudara baru yang membersamai dan pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya.

Kalau dibandingkan tahun lalu, Idul Fitri tahun ini terasa lebih 'lebaran'. Hari jumat, sabtu, sampai minggu alhamdulillah ada agenda yang dilakukan layaknya lebaran di tanah air. Sekarang minggu sore, kami baru pulang dan saya baru sempat menyelesaikan tulisan ini. Sekarang saya juga sudah sampai bosan makan santan.

Selamat hari raya Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Eid mubarak!

Chandra & keluarga

Menyoal Musik di Masjid

March 15, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Penampilan band Perunggu di Masjid Jogokariyan menjadi polemik karena dianggap menyatukan musik dan masjid. Orang mempertanyakan kepantasan dan kesesuaiannya dengan syariat. Sebagian menganggap ini bagian dari dakwah kekinian untuk menarik lebih banyak orang ke masjid, tapi sebagian yang lain menganggap penggunaan musik di area masjid berlebihan bahkan haram.

Disclamer dulu, sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja saya lumayan akrab dengan Masjid Jogokariyan. Kurang lebih saya mengerti denah masjidnya minimal untuk area yang bisa diakses publik, jadi saya tahu exactly di mana penampilan Perunggu itu digelar. Saya sudah beberapa kali menulis di blog ini tentang Masjid Jogokariyan, mungkin ini masjid yang paling sering saya mention di sini. Sebagai konsekuensinya, kedekatan itu juga memungkinkan adanya bias dalam saya berpendapat. After all, tulisan ini murni pendapat saya pribadi yang sangat mungkin salah.

Lalu disclaimer selanjutnya adalah saya pendengar musik juga, saya termasuk yang menganggap musik itu boleh asal tidak berlebihan dan tidak bercampur dengan maksiat. Karena kalau berpendapat bahwa musik itu total haram maka kita tidak perlu lagi membicarakan di mana musik itu dimainkan. 

So, menurut keyakinan saya..

Tempat band Perunggu main musik kemarin kalau saya bilang ada di area abu-abu memang. Selasar yang dipakai bukanlah serambi yang rutin dipakai untuk salat, melainkan lebih seperti area serbaguna. Tentu dalam situasi tertentu ketika jamaah banyak seperti salat ied tempat itu bisa dipakai untuk salat, tapi sehari-hari itu bukan area suci. Jika area itu dipakai acara diskusi, rapat, talkshow, ceramah, atau makan-makan saya yakin tidak akan ada yang mempermasalahkannya. Pada Ramadhan kali ini banyak juga acara digelar di sana walaupun saya cuma nonton dari YouTube.

Di sisi lain, area ini secara fisik masih 'satu atap' dengan masjid sehingga kalau dibilang bagian dari masjid ya nggak salah juga. Sebenarnya Perunggu ini bukan satu-satunya musik yang pernah ada di sana, beberapa diskusi diiringi musik sudah pernah ada termasuk di Ramadhan tahun ini ketika ada collab antara Ustadz Jojo Ali Yusuf dan Orkes Pensil Alis. Tapi untuk Perunggu selain formatnya band-band-an, fans-nya juga terlalu banyak sampai menempati area serambi salat. Menurut saya di sini lah acaranya cross the line


Ketika melihat line-up Ramadhan Masjid Jogokariyan jujur tampak seru, upaya menyolatkan orang hidupnya kelihatan sekali. Tapi tadinya saya pikir Perunggu ini akan dibuatkan panggung di jalan atau di parkiran mobil/bis. In that case, it's fine. Saya tidak menyangka konsernya akan dilakukan di selasar. Mau itu hanya akustikan atau yang dibawakan adalah lagu religi menurut saya tetap kurang pas. Alasannya sama dengan kenapa lagu-lagu Maher Zain dan Opick bagus diputar di acara syawalan tapi tetap tidak pantas diputar di masjid.

Cak Nun pernah bilang bahwa kalau bawa Kiai Kanjeng beliau maksimal banget di halaman, tidak pernah mau di serambi masjid apalagi ruang utama. Sebelum bicara syariat, menurutnya secara estetika saja sudah tidak cocok. Sebagai salah satu sesepuh yang menggunakan musik sebagai media dakwah tentu pendapat beliau pantas dipertimbangkan. Saya cukup yakin panitia Ramadhan Masjid Jogokariyan akan belajar dari kejadian ini dan lebih bijak dalam menyelenggarakan acara.

Masjid Jogokariyan bukan masjid baru, sepak terjangnya dalam dunia dakwah di Indonesia sudah panjang sekali. Ini adalah masjid yang sudah mature, bahwa ada kesalahan terjadi ya siapa sih manusia yang tidak pernah salah selain Nabi? Kejadian ini akan viral selama beberapa hari, Jogokariyan akan 'diserang', tapi menurut saya itu tidak cukup untuk menutup legacy yang sudah dibangun puluhan tahun. Dengan ijin Allah orang akan tetap datang ke Jogokariyan.

Patut disayangkan kejadian ini memicu perdebatan antar sesama muslim di bulan suci Ramadhan. At some point diskursusnya sampai sindir-sindiran antar golongan seolah-olah perbedaan kalender saja belum cukup. Tak bisakah meyakini kebenaran yang dipegang tanpa menganggap orang lain pasti salah? 

Tapi di sisi lain streisand effect-nya justru kejadian ini mungkin membuat Masjid Jogokariyan dan Perunggu lebih terkenal. Kini masyarakat umum jadi terpapar lagu 33x yang kalau diresapi liriknya sebenarnya dalam:

Risalah terikatnya
Batin dan raga yang mengunci
Diatas Sang Maha Daya
Semua kendali terambil alih

Jikalau kau keluhkan
Dengung sumbang yang mengganggu
Buka lagi visimu
Kau tahu mana urutan satu

Saya berharap kesalahan serupa tidak terulang karena satu kali khilaf dua kali berarti ada yang salah. Pandangan saya juga akan berbeda kalau ini sampai terjadi lagi. Masjid tidak didesain untuk musik dan saya sangat yakin Masjid Jogokariyan sudah cukup menarik tanpa musik.

Terakhir, untuk antum yang belum pernah ke Masjid Jogokariyan, silakan coba datang ke sana pada bulan Ramadhan dari sore sebelum berbuka sampai malam setelah tarawih dan rasakan suasananya, lebih bagus lagi kalau sekalian sampai sahur dan jamaah subuh :)

Allah yang Maha Mengetahui.


Chandra
foto-foto (3 dan 4): @rangga_ip

F1 2026

March 08, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Formula 1 dikocok lagi musim ini. Katanya tahun ini adalah perubahan regulasi paling ekstrem yang pernah terjadi dan jujur di atas kertas tampak menjanjikan. Saya jadi tertarik nonton lagi dan kebetulan race pertama di Australia hari ini bertepatan dengan waktu sahur di sini.

Perubahan pertama adalah mesin baru yang lebih electrish, katanya biar teknologinya mengikuti tren mobil jalan raya. Walaupun masih hybrid tapi porsi tenaga yang dihasilkan dari motor listrik kini diperbesar. Peran komponen baterai sekarang juga jadi lebih signifikan, termasuk kapan harus dicas dan kapan harus dipakai. 


Untuk memperingan kerja baterai sekarang juga diperkenalkan active aero di mana sayap depan dan belakang bisa di-adjust untuk mengurangi drag. Konsep teknisnya mirip dengan Drag Reduction System (DRS) tapi active aero yang sekarang bisa dipakai kapan saja tanpa syarat jarak kurang dari 1 detik dengan mobil depan. Ini karena active aero bukan overtaking aid lagi melainkan untuk masuk ke straight mode.

Sementara itu bantuan untuk overtaking sekarang dilakukan dalam bentuk lain yaitu melalui manajemen discharge daya baterai. Chasing car bisa menggunakan lebih banyak megajoules untuk mengejar mobil depan yang jaraknya kurang dari 1 detik. Aksi ini kemudian disebut overtake mode. Bisa dibilang sekarang peran power unit (PU) dalam menentukan hasil balapan cukup besar. Sial untuk Aston Martin yang pivot ke mesin Honda yang ternyata belum siap untuk musim dan regulasi baru.

Sejak sebelum balapan pertama di Australia ini Aston Martin sudah pesimis duluan bahwa mereka bisa membalap sampai selesai. Belum ngomongin finish keberapa lho ini, bisa finish saja belum yakin. Kabarnya mesin Honda masih underpowered, mobilnya bergetar kencang, dan sparepart-nya nggak cukup. 


Itu baru satu ke-chaos-an yang terjadi di Albert Park. Melangkah ke balapan Verstappen crash di awal kualifikasi sehingga harus gugur di Q1, Piastri crash saat warm up 40 menit sebelum start padahal ini home grand prix-nya, serta Russel dan Leclerc balapan sengit dari start sampai lap 10 sebelum akhirnya Ferrari messed up their strategy saat VSC.

Di sisi lain ada perubahan juga dari sisi kompetitor di mana tahun ini jumlah pembalap naik dari 20 menjadi 22 dan ada dua tim pendatang baru yaitu Audi dan Cadillac. Sayangnya Porsche tidak jadi masuk grid. Selain itu ada circuit baru juga tahun ini yaitu Madrid Street Circuit di Spanyol. 


Australian Grand Prix ditutup dengan Mercedes 1-2 dan Ferrari 3-4. Verstappen sukses naik dari start posisi 20 jadi finish posisi 6. Sementara ini bad day in the office untuk McLaren. Banyak ketidakpastian di race ini karena regulasi yang baru. Tapi kenyataan menunjukkan sistem yang sekarang bisa menghadirkan race yang eventful dan menarik.

Sign me up for F1 2026.

Chandra